Senin, 25 Februari 2013

psikologi klinis anak dan dewasa

Beberapa universitas di Indonesia membagi dua program psikologi klinis mereka menjadi psikologi klinis anak dan dewasa. Menurut saya, alasan pembagian ini untuk memberikan ilmu yang lebih mendalam dalam masing-masing bidang. Hal ini membuat calon psikolog dapat memilih untuk lebih sering menghadapi klien anak atau orang dewasa, tergantung kenyamanan mereka. Anak-anak dan orang dewasa memiliki banyak sekali perbedaan dalam penanganannya. Hal ini mungkin juga menjadi alasan lain pembagian program tersebut.

Bagi saya, psikologi klinis anak merupakan suatu bidang yang cenderung saya jauhi. Mengapa? Karena saya tidak merasa nyaman menghadapi anak-anak. Saya merasa kesal setiap kali melihat mereka bergerak terlalu aktif kesana-kemari. Saya merasa kesal ketika mereka menangis dan berteriak. Saya adalah seseorang yang hanya mampu mencintai anak saya sendiri atau anak dari keluarga dekat saya. Hal ini menyebabkan saya tidak tertarik sama sekali untuk menjadi psikolog anak. Akan tetapi, tugas Teknik Wawancara kali ini sedikit mengubah pandangan saya mengenai dunia psikologi klinis anak. Perubahan ini tetap saya anggap tidak terlalu besar, hingga membuat saya tertarik untuk menjadi seorang psikolog anak. Namun, saya belajar untuk memandang psikologi klinis anak secara lebih positif.

Wawancara saya dengan seorang psikolog klinis anak, dalam rangka menyelesaikan tugas, cukup menginspirasi saya untuk mengubah pandangan saya. Sejujurnya, hal ini pertama kali saya alami sepanjang perjalanan perkuliahan saya. Menurut beliau, alasan beliau memilih untuk menangani klien anak adalah efek yang diberikan akan jauh lebih banyak. Beliau beranggapan bahwa klien anak yang ditangani sedini mungkin akan memberikan efek positif yang berlangsung jauh lebih lama. Hal ini ada benarnya ketika dibandingkan menghadapi klien lansia yang efek positifnya cenderung berlangsung lebih singkat dibandingkan klien anak. Pernyataan ini cukup menginspirasi saya karena saya tidak pernah berpikir hal seperti ini sebelumnya. Namun, beberapa jam setelah wawancara tersebut, saya merasa bahwa pernyataan ini tidak sepenuhnya benar karena efek positif itu tergantung dari perasaan masing-masing individu. Mungkin saja seorang klien lansia merasakan efek positif yang lebih besar daripada klien anak. Sehingga, dapat dikatakan bahwa kualitas efek positif klien bisa lebih penting dibandingkan kuantitas berlangsungnya. Namun, kuantitas bukan berarti suatu hal yang bisa dilupakan begitu saja juga. Selain itu, bukankah semua klien memiliki kedudukan yang sama?

Selanjutnya, saya akan bergeser sedikit membahas mengenai psikolog klinis dewasa. Sejujurnya, saya tidak mendapatkan terlalu banyak hal yang benar-benar baru dari presentasi yang saya dengarkan di kelas. Saya sedikitnya sudah tahu seperti apa hal-hal yang mungkin saya hadapi nanti ketika menjadi seorang psikolog klinis dewasa melalui buku yang saya baca dan pengalaman yang sudah dibagikan oleh dosen-dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk tidak membahas terlalu banyak mengenai hal ini. Menurut saya, hal yang paling penting yang saya butuhkan adalah pengalaman. Pengalaman untuk menjadi psikolog klinis dewasa tidak mungkin saya dapatkan selama menempuh pendidikan sarajana. Hal tersebut nanti saya dapatkan saat melanjutkan perkuliahan pascasarjana.

Namun, saya tetap menarik suatu pelajaran berharga dari presentasi yang saya dengarkan hari ini yaitu sebagai psikolog, kita harus tahu batasan kita sendiri. Jangan sampai kita merasa kelelahan ketika menghadapi suatu klien karena kita tidak membatasi diri kita dan terus menerus menerima klien. Selain itu, keterampilan-keterampilan seorang psikolog, khususnya wawancara dalam pembahasan ini, hanya dapat diasah melalui pengalaman. Oleh karena itu, jangan pernah menunda untuk melatih keterampilan wawancara kita. Kita perlu ingat bahwa waktu tidak bisa diputar kembali. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena kesalahan hari ini.


"You may delay, but time will not."
- Benjamin Franklin -

suatu "masalah" bagi pria

Ukuran penis menjadi salah satu kekhawatiran utama bagi banyak pria. Kekhawatiran ini wajar saja karena penis dianggap sebagai salah satu simbol maskulinitas, bahkan sejak zaman dahulu kala. Penggambaran penis sering terjadi dalam kesenian-kesenian purba. Penis selalu digambarkan dengan ukuran yang besar, mungkin masyarakat purba menganggap bahwa semakin besar penis, maka semakin besar kesuburan yang diberikannya. Pemikiran ini terbawa ke zaman modern dan membuat berbagai masalah dalam kehidupan pria.

Pria yang memiliki penis berukuran "kecil" sering dianggap tidak cukup maskulin, padahal belum tentu demikian. Kekhawatiran pria yang memiliki ukuran penis "kecil" mungkin serupa dengan kekhawatiran wanita yang memiliki ukuran payudara "kecil." Padahal, sebenarnya keduanya bukanlah suatu hal yang patut terlalu dikhawatirkan. Banyak pria berusaha untuk memperbesar penis yang terlihat terlalu "kecil" dengan berbagai  pengobatan, khususnya menggunakan pengobatan alternatif di Indonesia. Padahal, pembesaran penis bisa saja berbahaya bagi seorang pria. Hal ini serupa terjadi pada kaum wanita yang berusaha memperbesar payudaranya dengan menggunakan operasi plastik atau suntik silikon, padahal keduanya yang memiliki resiko tersendiri.

Menurut Zoya Amirin, M.Psi., ukuran penis pria tidak akan mempengaruhi terlalu banyak performa seksnya, kecuali jika penis tersebut memang terlalu kecil karena mengalami gangguan medis tertentu. Hal ini dapat dikonsultasi dengan dokter yang memang ahli dalam bidang reproduksi. Kekerasan penis menjadi faktor yang lebih penting dalam performa seks seseorang. Selain itu, beliau menambahkan bahwa sebenarnya letak g-spot dekat dengan mulut vagina, sehingga tidak perlu mempunyai ukuran penis sangat "panjang" untuk mencapainya.

Sebenarnya, penis yang terlalu besar bisa saja menyebabkan ketidaknyamanan bagi wanita saat berhubungan seksual. Vagina suatu organ yang elastis, tetapi mempunyai batasan tertentu. Sehingga, pria yang memiliki penis terlalu "besar" juga mempunyai permasalahan tersendiri. Akan tetapi, pemikiran bahwa penis yang "besar" adalah simbol keperkasaan merupakan suatu pemikiran yang sulit hilang begitu saja. Sebenarnya, masalah ini bisa saja dipandang sama dengan wanita yang menginginkan payudara yang berukuran "besar", suatu hal yang tidak terlalu vital, tetapi dianggap sebagai suatu hal yang sangat vital.

Pendidikan seks bagi pasangan yang sudah menikah sangat penting untuk menghilangkan mitos "ukuran penis terkait dengan kepuasan seksual" karena hal yang lebih penting adalah rasa cinta terhadap pasangan. Selain itu, variasi teknik seksual dapat digunakan untuk memberi warna dalam kehidupan seksual pasangan. Jadi jangan pernah ambil resiko untuk suatu hal yang belum jelas, khususnya pengobatan alternatif yang memang tidak ada bukti ilmiah. Jangan sampai datang ingin untung, pulang-pulang "buntung." Stay safe guys :)


The most important aspect of sex is love. You will still probably enjoy sex without love, but not as enjoyable as sex with affection to your spouse.

Selasa, 19 Februari 2013

rasa penasaran memulai segalanya

Sebelum mulai menulis tulisan ini, saya sempat membaca beberapa tulisan dari rekan-rekan saya dari kelas Perilaku Seksual. Pada umumnya, mereka membahas mengenai cinta dan keintiman. Bagi saya membicarakan cinta dan keintiman adalah sesuatu yang sangat aneh. Dalam diri saya akan selalu muncul perasaan yang geli yang sulit untuk saya jelaskan ketika membahas mengenai hal tersebut. Akan tetapi, bukan berarti saya adalah orang yang tidak dapat merasakan cinta dan keintiman. Namun, saya merasa "bukan saya banget", ketika membahas topik mengenai cinta. Apa alasannya? Mungkin saja saya adalah seorang individu yang memilih untuk merasakan cinta tanpa perlu menuangkan makna cinta tersebut dalam suatu tulisan.

Hal ini menyebabkan saya memutuskan untuk melawan mainstream dan membahas mengenai suatu topik lainnya yaitu seks dan pendidikan seks.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Manusia adalah makhluk seksual dan kita tidak bisa menyangkal kenyataan ini.

Manusia selalu merasa penasaran mengenai seks, tetapi pada saat yang bersamaan kita merasa tidak nyaman membicarakannya. Akan tetapi, pada saat ini, banyak sekali remaja Indonesia sudah pernah melakukan hubungan seksual, bahkan ada yang melakukannya secara rutin. Rasa penasaran membuat banyak remaja mulai mencoba melakukan hubungan seksual. Mereka memperoleh gambaran mengenai hubungan seksual melalui pornografi. Mereka ingin sangat penasaran terhadap sensasi yang dialami oleh para aktor dan aktris tersebut. Mereka ingin mencoba merasakan sensasi tersebut pada dunia nyata. Banyak remaja lainnya mendapat dorongan dari teman-teman sebayanya yang sudah berhubungan seksual secara rutin. Cerita-cerita dan mitos-mitos dari teman-teman sebaya tentu semakin menambah rasa penasaran dan juga keberanian mereka untuk melakukan hubungan seksual.

Rasa penasaran pun semakin bertambah ketika minimnya informasi mengenai seksualitas di sekitar mereka. Internet menjadi salah satu sumber informasi mengenai seksualitas bagi remaja. Akan tetapi, tidak semua informasi dari Internet itu adalah fakta, bahkan ada beberapa informasi yang cenderung menyesatkan. Orangtua yang merasa tidak nyaman membicarakan seksualitas dengan remaja sehingga tidak dapat diandalkan menjadi sumber informasi. Banyak orangtua merasa takut setelah membicarakan seksualitas dengan remaja, remaja tersebut akan menjadi terlalu aktif secara seksual. Padahal, banyak remaja berani melakukan hubungan seksual karena mereka tidak mengetahui resiko dari hubungan seksual tersebut. Tidak bisa dipungkiri memang ada remaja yang tetap berani melakukan hubungan seksual, meskipun mengetahui resiko-resikonya. Namun, menurut pandangan saya, lebih banyak lagi remaja yang tidak mengetahui resiko-resiko yang mengintai mereka. Sehingga, pemberian pendidikan seks kepada remaja sangat penting, diharapkan setelah memahami resiko-resikonya mereka dapat menunda hubungan seksual dan baru melakukannya setelah menikah.

Pendidikan seks pun suatu kontroversi tersendiri, salah satu pertanyaan terbesar adalah pendidikan seks seperti apa yang harus diberikan. Menurut Zoya Amirin, M.Psi., perkembangan seksual seseorang harus disesuaikan dengan usianya. Misalnya, remaja yang aktif berhubungan seksual layaknya suami-istri adalah perkembangan yang bermasalah. Mereka tentu tidak siap dengan resiko terjadinya kehamilan. Kehadiran bayi pada masa remaja akan menimbulkan masalah yang sangat banyak dalam kehidupan mereka. Selain itu, anak yang mengalami pemerkosaan pun juga akan mengalami perkembangan yang bermasalah. Alat reproduksi mereka masih belum berfungsi dengan baik dan timbulnya trauma bagi mereka dapat mempengaruhi keadaan psikologis korban. Hal ini membuat saya menarik simpulan bahwa pendidikan seksual yang baik sebaiknya mendorong perkembangan seksual yang lebih sehat bagi manusia. Ketika sudah terlanjur bermasalah diharapkan perkembangannya dapat terarah ke arah yang lebih sehat kembali.

Selanjutnya, menurut Henny E. Wirawan, M.Hum., Psi., pendidikan seks sebenarnya bisa mulai diberikan sedini mungkin tentu dimulai dari hal-hal kecil, misalnya mengajarkan anak untuk berpakaian terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar mandi. Beliau juga menambahkan pendidikan seks terbaik berasal dari orangtua. Hal yang mengkhawatirkan ketika anak  memperoleh informasi yang salah dari orang yang salah pula. Istilah bisa karena biasa mungkin juga berperan dalam pendidikan seks. Jika anak sudah terbiasa berbicara mengenai seksualitas dengan orangtuanya, maka mereka pun bisa dengan nyaman bertanya mengenai seksualitas dengan orangtuanya. Misalnya, anak bisa saja dapat dengan nyaman bercerita mengenai teman-temannya yang sudah aktif berhubungan seksual. Anak tersebut juga dapat menyatakan rasa penasarannya mengenai hal tersebut. Orangtua dapat dengan mudah mencegah anak tersebut untuk melakukan hubungan seksual pranikah dengan menjelaskan resiko-resikonya. Namun, yang umumnya terjadi adalah ketika anak menghadapi suatu masalah terkait dengan seksualitas, anak jarang membicarakannya dengan orangtua. Mereka merasa malu dan tidak nyaman membicarakan seksualitas dengan orangtua. Mereka akan biasanya bertanya kepada teman-teman sebayanya atau mencari informasi melalui Internet yang belum tentu memberikan benar. Hal ini bisa saja berujung ke hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya hubungan seks pranikah.

Simpulannya, orangtua tidak perlu malu lagi untuk berdiskusi dengan anaknya mengenai seksualitas karena seksualitas adalah bagian yang tidak terpisahkan dari manusia. Orangtua tidak perlu malu bertanya terhadap ahli yang benar-benar memahami tentang seksualitas ketika tidak memiliki pengetahuan yang cukup. Ahli tersebut dapat membantu orangtua untuk mengetahui apa yang sebaiknya diajarkan terhadap anak sesuai dengan usianya dan bagaimana menjawab pertanyaan dengan lebih baik. Sehingga, tidak ada alasan lagi untuk menunda pendidikan seks terhadap anak sedini mungkin karena perkembangan seksualitas anak sama pentingnya dengan perkembangan lain mereka.






Seksualitas ketika dibicarakan dengan terhormat dan pantas bukanlah sesuatu hal yang memalukan, tetapi hal penting yang perlu dipahami oleh semua manusia.
Penulis

Senin, 03 Desember 2012

sebuah tulisan terakhir untuk psikologi perempuan

Tulisan ini merupakan tulisan terakhir saya untuk kelas Psikologi Perempuan. Saya akan membahas dua buah fenomena yang merupakan bentuk kekerasan lain yang sering dialami oleh wanita yaitu trafficking (perdagangan manusia) dan kekerasan yang dialami oleh wanita di panti werdha.

Pertama, saya akan membahas mengenai fenomena trafficking. Saat membahas fenomena ini, saya teringat dengan naskah pementasan teater SMA saya yang berjudul "SINGKAWANG" (teraSING di KotA WAnita terbilANG). Pementasan ini bercerita tentang kehidupan sekumpulan anak muda di kota Singkawang yang mayoritas ditinggali oleh etnis Cina. Kisah ini dimulai ketika salah satu wanita berasal dari kota tersebut "dinikahkan" dengan pria dari Taiwan pada usia yang sangat muda. Selanjutnya, pementasan bercerita tentang kehidupan sehari-hari teman-teman wanita yang "dinikahkan" tersebut. Selain itu, pementasan juga bercerita tentang orang-orang yang berkecimpung dalam bisnis "pernikahan" tersebut. Cerita bergulir dan akhirnya menyebabkan tragedi di kota tersebut.

Kenyataannya memang kota Singkawang menjadi salah satu pemasok wanita untuk "dinikahkan" dengan pria dari Taiwan. Alasan utama mengapa fenomena ini terus terjadi adalah faktor kemiskinan. Kemiskinan yang melanda kota Singkawang menyebabkan banyak warga tidak mampu untuk berpikir panjang untuk segera menjual anak perempuannya kepada pria Taiwan. Minimnya pembangunan di daerah tersebut membatasi lapangan kerja dan korupsi yang menguasai daerah tersebut memperlancar praktik seperti ini. Pada pementasan teater digambarkan bahwa kepala desa ternyata bekerja sama dengan orang yang melakukan bisnis penjualan manusia tersebut.

Faktor persamaan etnis yaitu sama-sama beretnis Cina bisa juga memperkuat keinginan warga untuk menjual anaknya. Orangtua menganggap karena pria Taiwan tersebut beretnis Cina maka akan memperlakukan dengan baik anak perempuannya yang juga beretnis Cina, walaupun tidak demikian. Memang ada wanita yang beruntung mendapatkan suami yang baik saat tiba di Taiwan. Akan tetapi, tidak sedikit pula wanita yang "dinikahkan" tersebut malah mengalami kekerasan rumah tangga dan berusaha keras untuk kembali ke kampung halamannya. Secara umum, fenomena trafficking banyak mempunyai efek negatif. Hal ini juga serupa dengan pengiriman TKI secara gelap ke negara-negara yang membutuhkan pembantu rumah tangga. Tidak sedikit kita melihat TKI yang mengalami penyiksaan secara sadis dari majikannya. Namun, sekali lagi kita tidak dapat mengatakan bahwa tidak ada TKI yang memperoleh kesuksesan setelah bekerja di luar negeri. Kita dapat melihat dari penggambaran di atas bahwa fenomena trafficking memiliki banyak sekali bentuk mulai dengan "pernikahan" paksa, pengiriman TKI illegal, dan masih banyak bentuk lainnya.

Penulis menilai bahwa human trafficking adalah fenomena yang tidak dapat didiamkan begitu saja oleh pemerintah. Bisa saja korban human trafficking dipekerjakan sebagai pelacur, pembantu rumah tangga, pekerja di bawah umur, dan lain-lain. Korban juga direngut kebebasannya oleh para pelaku human trafficking. Penulis melihat bahwa hal yang paling mengerikan dari fenomena ini adalah manusia diperlakukan sebagai barang, bukan sebagai individu yang mempunyai kehendak. Bagi penulis, perdagangan manusia menunjukkan sisi tergelap manusia yaitu manusia memakan manusia lainnya.

Fenomena kedua yang saya akan bahas adalah penelantaran yang dialami oleh wanita di panti werdha. Salah satu bentuk kekerasan yang tidak memiliki efek fisik secara langsung adalah penelantaran. Hal ini sering dialami oleh kakek dan nenek yang tinggal di panti werdha. Penelantaran dimulai oleh para anak dari kakek dan nenek tersebut karena merasa kerepotan mengurus orangtuanya. Hal ini menyebabkan mereka memutuskan untuk mengirim orangtua mereka ke panti werdha. Lalu, perlahan-lahan mereka akan lebih jarang mengunjungi orangtua mereka. Bagi penulis, hal ini merupakan suatu fenomena yang cukup menyedihkan.

Penelantaran ini memiliki efek yang sangat buruk bagi kakek nenek tersebut secara psikologis tentunya. Rasa sakit hati, sedih, kecewa, putus asa, rendah diri, dan perasaan negatif lainnya bercampur menjadi satu dalam diri mereka. Selain itu, berdasarkan pengalaman yang diceritakan oleh Ci Tasya, banyak kakek nenek yang tinggal di panti werdha mengalami kekerasan oleh para pegawainya. Faktor minimnya bayaran dan pelatihan menyebabkan kakek dan nenek yang tinggal di panti werdha mengalami penderitaan. Mereka sering diperas oleh pegawai panti werdha tersebut. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula, merupakan peribahasa yang paling mengungkapkan fenomena ini.

Melihat fenomena-fenomena seperti ini sebagai seorang mahasiswa psikologi, penulis merasa harus memberikan sumbangan bagi perbaikan panti werdha seperti ini. Peningkatan pelatihan bagi pegawai dan bayaran yang lebih pantas bisa meminimalisir kekerasan seperti ini. Selain itu, tidak kalah penting edukasi terhadap anak-anak dewasa yang merasa kerepotan mengurus orangtuanya. Sering kali karena perasaan kesal sederhana, misalnya karena orangtua terlalu bawel, dapat mendorong anak untuk menelantarkan orangtuanya di panti werdha. Tentu edukasi menjadi sangat penting dan usaha untuk saling memahami antara anak dewasa dan orangtuanya sangat dibutuhkan.

Kedua fenomena di atas adalah fenomena yang dapat dicegah, tetapi dibutuhkan sekali usaha bersama untuk mencegahnya. Pada akhirnya, penulis berharap melalui tulisan ini masyarakat dapat lebih menyadari bahwa banyak fenomena mengerikan seperti ini di sekitar mereka. Tentu dibutuhkan bantuan nyata untuk korban-korban human trafficking dan khususnya bagi korban kekerasan di panti werdha. Pemberian support bagi kakek dan nenek di panti werdha sangat penting sekali untuk diberikan.

Akhir kata, semoga melalui tulisan ini kita disadarkan bahwa ternyata dibalik segala sesuatu mungkin saja tersimpan sesuatu hal yang tidak kita sadari sebelumnya.

Sabtu, 24 November 2012

air mata wanita

Tulisan saya kali ini memiliki judul yang sedikit dramatis yang secara khusus didedikasikan kepada para korban kekerasan rumah tangga yang mayoritas wanita dan anak-anak.

Kasus kekerasan dalam rumah tangga sangat banyak di Indonesia dimulai dari pemukulan terhadap istri, anak laki-laki yang membakar hidup-hidup ibunya sendiri, pembantu rumah tangga yang disiram air panas oleh majikannya, anak perempuan yang dilecehkan oleh pamannya sendiri, dan masih banyak kasus lainnya.

Penulis menilai bahwa salah satu faktor terbesar mengapa korban kekerasan dalam rumah tangga adalah perempuan karena perempuan secara kekuatan fisik jauh lebih lemah daripada laki-laki. Para korban selain itu juga memiliki kekuasaan yang jauh lebih terbatas dibandingkan pelakunya, hal ini sangat terlihat pada kasus penyiksaan terhadap pembantu rumah tangga oleh majikannya sendiri. Hal ini sungguh memprihatinkan memang.

Penulis juga mengamati bahwa faktor lain maraknya kasus ini adalah anggapan bahwa perempuan merupakan kepunyaan pria. Anak perempuan merupakan kepunyaan ayahnya. Istri merupakan kepunyaan suaminya. Pembantu rumah tangga adalah kepunyaan majikannya. Pandangan ini membuat orang-orang yang memiliki "kekuasaan" tersebut kadang-kadang bertindak sewenang-wenang.

Kasus kekerasan pada wanita adalah suatu fenomena yang tidak bisa didiamkan begitu saja. Akan tetapi, pengungkapan kekerasan dalam rumah tangga adalah suatu hal yang sangat sulit sekali dilakukan karena dianggap suatu aib keluarga. Tentu sangat sulit sekali bagi korban pemerkosaan incest untuk mengungkap secara jujur kejahatan yang dialaminya.

Namun, penulis menilai bahwa seiring kemajuan zaman dan pendidikan yang semakin baik terlihat bahwa wanita mampu untuk menuntut hak-haknya. Penulis pernah membaca di sebuah koran yang mengungkapkan bahwa pengajuan cerai di Jakarta akhir-akhir ini lebih banyak dilakukan oleh wanita. Akan tetapi, sekali lagi perlu diingat bahwa masih banyak sekali kasus kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di luar kota Jakarta.

Menurut penulis, adanya keberanian dan sensitivitas di lingkungan tetangga sekitar sangat penting dalam mengungkapkan adanya kekerasan dalam rumah tangga. Faktor rasa sungkan sering menjadi penghalang utama untuk mengungkapkan kasus-kasus seperti ini. Hal ini menyebabkan banyak tetangga korban yang mendiamkan keberadaan kasus ini hingga korban sudah dalam keadaan sangat parah.

Perempuan yang menjadi korban kekerasan harus secepat mungkin keluar dari rumah tempat tinggalnya untuk mengungsi di tempat yang lebih aman. Kekerasan dalam rumah tangga adalah suatu lingkaran setan yang harus segera diputus karena akan makin lama semakin parah.

Simpulannya kekerasan rumah tangga adalah suatu fenomena yang nyata yang harus dihentikan secepatnya. Bantuan masyarakat sekitar korban kekerasan sangat penting. Rasa sungkan jangan sampai menyebabkan korban berada dalam keadaan yang semakin parah. Pada zaman modern ini, wanita, bahkan yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, harus semakin mandiri dan mempunyai penghasilan tambahan. Meskipun tidak menjadi korban kekerasan, wanita yang mempunyai penghasilan tambahan tentu memiliki kelebihan tersendiri.

Pada akhir tulisan ini, penulis hanya memiliki satu pesan sudah cukup air mata wanita tertumpah. Jangan sampai bertambah korban kekerasan rumah tangga.

Minggu, 18 November 2012

mengapa kamu mau "dibodohin" iklan?

Judul tulisan yang cukup mengejutkan bukan? Namun, itu adalah hal yang penulis rasakan saat memulai menulis tulisan ini. Penulis merasa bahwa orang-orang dengan gangguan psikologis seperti di atas adalah orang-orang yang *maaf* tolol. Penulis sebagai seorang yang cukup sering menonton televisi cukup terheran-heran melihat munculnya gangguan makan seperti anorexia dan bulimia nervosa di dunia ini. Penulis sangat heran melihat body image seseorang dipengaruhi oleh iklan-iklan di televisi. Akan tetapi, setelah merenungkan beberapa saat ternyata memang benar bahwa paparan dari televisi secara perlahan-lahan mengubah standar kecantikan yang penulis bayangkan. Misalnya, bukan bermaksud rasis, tetapi penulis sulit sekali melihat bahwa wanita yang berkulit gelap sebagai wanita yang cantik, kecuali beberapa artis seperti Beyonce Knowles dan Rihanna.

Ya, memang benar iklan telah mengubah banyak sekali aspek kehidupan manusia.

Tentu pemikiran seperti ini berada dalam pemikiran banyak wanita, khususnya standar kelangsingan. Paparan iklan mengenai wanita yang harus kurus untuk mendapatkan kebahagiaan mempengaruhi pandangan wanita tersebut. Selanjutnya, wanita tersebut diet yang kurang tepat, yaitu tidak makan sama sekali, untuk menurunkan berat badannya. Diet berlangsung terus menerus sehingga wanita yang tidak makan berhari-hari akhirnya mulai terbiasa untuk tidak makan. Hal ini terus menerus berlanjut dan berujung kepada gangguan makan anorexia nervosa. Suatu hal yang memprihatinkan memang.

Penulis menyadari bahwa standar kecantikan yang ditanamkan oleh iklan sulit sekali untuk dilepaskan begitu saja. Selain itu, standar kecantikan yang ditampilkan oleh iklan tidak 100 persen salah karena wanita yang terlalu gendut dapat mengalami masalah kesehatan juga. Namun, kadang-kadang penggambaran wanita dalam iklan cukup berlebihan. Tentu penggambaran yang masuk akal juga dibutuhkan.

Saat mengerjakan tugas Psikologi Perempuan, penulis tidak sengaja menemukan suatu artikel jurnal yang membahas mengenai perjuangan para feminis untuk menghilangkan iklan-iklan seperti ini. Namun, seorang feminis bernama Naomi Wolf beranggapan bahwa ketika suatu ideologi yang menguatkan diri wanita muncul di permukaan. Beberapa saat kemudian, menurut Naomi Wolf, akan muncul ideologi lain yang merendahkan diri wanita.

Secara tidak langsung, Naomi Wolf mendukung pandangan feminis radikal bahwa untuk menghilangkan ketidakseimbangan antara pria dan wanita hal yang harus dilakukan adalah wanita harus menjajah pria. Akan tetapi, penulis tetap bertanya-tanya apakah harus benar-benar dilakukan penjajahan?

Akhir dari tulisan ini, penulis yakin bahwa suatu hari nanti mungkin saja terjadi perubahan-perubahan di dunia ini mengenai pencitraan wanita. Akan tetapi, perubahan seperti apa yang terjadi tidak ada yang akan tahu.

Jumat, 09 November 2012

sedikit kisah dari majalah wanita

Kanker payudara salah satu penyakit paling mematikan bagi wanita, bahkan lebih mematikan lagi pria. Sama seperti kanker-kanker lainnya, kanker payudara sering menjadi tanda lonceng kematian bagi seorang wanita. Akan tetapi, dengan kemajuan zaman, kanker tentu memiliki kemungkinan yang sangat tinggi untuk sembuh jika dideteksi sedini mungkin. Salah satu teknik untuk mendeteksi kanker adalah dengan melakukan pemijatan di daerah payudara wanita. Jika terasa benjolan-benjolan yang mencurigakan, maka dapat dipertimbangkan untuk mengunjungi dokter. Selain itu, pemeriksaan USG secara periodik juga bermanfaat untuk mendeteksi tumor yang mengkhawatirkan. Bagi pria, penyakit ini lebih sulit untuk dideteksi, namun jika memang terjadi benjolan yang sudah sangat mengkhawatirkan sebaiknya secepat mungkin ke dokter.

Penulis selanjutnya akan menjelaskan mengenai salah satu cerita yang penulis peroleh melalui sebuah majalah wanita (saya lupa majalah apa) mengenai perjuangan seorang wanita menghadapi kanker payudara pada stadium yang berbahaya. Wanita tersebut pada awalnya menemukan benjolan kecil pada daerah payudaranya. Setelah menemukan benjolan tersebut, wanita tersebut segera memeriksakan dirinya ke dokter. Wanita tersebut sangat terkejut kita mengetahui bahwa kanker tersebut sudah mencapai stadium yang berbahaya. Selanjutnya, wanita tersebut terpaksa harus menghadapi proses masektomi untuk mengatasi kanker tersebut.

Setelah menghadapi masektomi, wanita tersebut mengalami depresi. Menurutnya, dia merasa kehilangan salah satu bagian terpenting dalam hidupnya. Tak lama kemudian, wanita tersebut melakukan operasi rekonstruksi payudara. Selanjutnya, dia menikah dengan tunangannya dan mempunyai anak laki-laki.

Cerita di atas merupakan cerita singkat yang penulis mampu ingat. Tentu terdapat dinamika emosional yang dialami wanita tersebut saat hendak menjalani proses masektomi. Akan tetapi, penulis tidak dapat terlalu mengingat mengenai secara detail mengenai dinamika emosional. Secara garis besar, penulis menangkap bahwa proses masektomi memiliki dampak yang tidak kecil bagi wanita. Payudara, yang dianggap sebagai bagian yang memperindah bentuk tubuh wanita dan sumber makanan untuk keturunannya, terpaksa dirusak demi kesembuhan dari kanker payudara.

Rekonstruksi payudara menjadi salah satu alternatif mengenai masalah ini. Akan tetapi, setiap prosedur operasi lainnya, seorang wanita harus benar-benar memahami setiap kelebihan dan kelemahannya. Salah satu kelemahannya adalah rekonstruksi payudara tersebut tidak akan menghasilkan payudara yang benar-benar sama persis dengan payudara yang sesungguhnya. Namun, jika wanita tersebut memahami kelebihan dan kekurangan ini, maka kepuasan yang dialami oleh wanita tersebut akan semakin lebih terasa.

Kesimpulan yang penulis tangkap adalah payudara salah satu bagian yang sangat penting bagi wanita. Setiap wanita tentu berusaha untuk mempertahankan bagian ini. Masektomi yang dilakukan untuk mengatasi kanker payudara tentu memiliki dampak psikologis bagi wanita tersebut. Dukungan sosial menurut penulis sangat penting untuk mengatasi hal ini. Selain itu, jika memang terasa sangat berat, maka rekonstruksi payudara dapat dilakukan. Namun, tetap diingat bahwa payudara yang terbentuk bukanlah payudara sesungguhnya.

Tentu di masa depan nanti diharapkan tidak perlu lagi prosedur masektomi untuk mengatasi kanker payudara. Tetapi, sekali lagi butuh kerja keras dunia kedokteran dan medis untuk mengatasi kanker payudara.





salam hangat,



penulis